RESUME
KESUBURAN
TANAH

OLEH
NAMA : FENTI WULANDARI
NIM : C1M013060
GELOMBANG : II
KELOMPOK : I
FAKULTAS
PERTANIAN
UNIVERSITAS
MATARAM
2015
ACARA
II. TEKNIK PENGAMATAN KANDUNGAN N PADA TANAMAN DENGAN BWD
Pertumbuhan tanaman yang baik dan hasil yang tinggi
membutuhkan suplai nitrogen (N) yang cukup, bila suplai N tak cukup tanaman
akan mengalami kekurangan N, yang ditunjukkan oleh pertumbuhan organ dan
keseluruhan tanaman yang tidak normal. Gejala kekurangan N yang paling jelas dan
biasa terlihat adalah berkurangnya warna hijau dari dedaunan (chlorosis), yang
umumnya agak terdistribusi merata pada keseluruhan daun. Daun menjadi lebih
pucat, menguning, dan pada kondisi kekurangan N yang gawat menjadi mati. Pada
tanaman serealia, kekurangan N ditandai oleh berkurangnya anakan; jumlah malai
per satuan luas dan juga jumlah gabah per malai berkurang. Karena itu,
pertumbuhan dan hasil tanaman, khususnya padi, berhubungan erat dengan warna
hijau dari daun.
Efisiensi penggunaan pupuk N rendah, hanya 19-47% dari N yang
diberikan bisa diserap tanaman padi. Pemberian N yang tepat waktu ke tanaman
adalah suatu usaha yang dapat meningkatkan efisiensi N, sedangkan tiga kali
pemberian pupuk N pada padi sawah biasa disarankan untuk mendapatkan efisiensi
yang lebih tinggi. Disamping itu, mengetahui kapan tanaman padi benar-benar
memerlukan tambahan pupuk N akan sangat membantu, dan ini dapat memberikan
peningkatan efisiensi serapan N yang nyata; dan ini dapat dilakukan dengan
memonitor warna daun tanaman padi.
Warna daun adalah suatu indikator yang berguna bagi kebutuhan
pupuk N tanaman padi. Daun yang bewarna pucat atau hijau kekuningan menunjukkan
bahwa tanaman kekurangan N. Terdapat dua metoda pengukuran warna daun dengan
mudah dilapang; menggunakan peralatan mesin dan menggunakan alat sederhana.
Beberapa alat pengukur ini mempunyai kekurangan seperti kerusakan pada tanaman,
memerlukan peralatan yang mahal, dan kesulitan dalam pengukuran.
Skala warna, yang tersusun dari suatu seri warna hijau, dari
hijau kekuningan sampai hijau tua, sesuai dengan warna-warna daun di lapang,
dapat digunakan untuk mengukur warna daun. Bila suatu nilai warna daun lebih
rendah dari batas kritis tertentu, maka tanaman memerlukan pupuk N tambahan.
Bagan Warna Daun (BWD) yang didistribusikan oleh CREMNET-IRRI untuk tanaman
padi, adalah suatu alat yang sederhana, mudah digunakan dan tidak mahal, untuk
menentukan waktu pemupukan N pada tanaman padi. Alat ini cocok untuk
mengoptimalkan penggunaan N, untuk berbagai sumber pupuk N yang diberikan. Alat
ini terdiri dari empat warna hijau, dari hijau kekuningan sampai hijau tua. BWD
ini lah yang ingin kita kenalkan secara luas pada komunitas pertanian di NAD,
termasuk para penyuluh dan petani. Lebih jauh, tulisan ini juga dimaksudkan untuk
memberikan pengertian tentang pentingnya pemupukan N pada tanaman padi dan
dasar pengertian tentang penggunaan BWD.
Bagaimana
mengukur warna daun
Pilih daun termuda yang telah kembang sempurna dan sehat dari
suatu tanaman untuk pengukuran warna daun. Warna daun ini sangat berhubungan
dengan status N tanaman padi. Dari tiap lahan, pilih 10 daun dari 10 tanaman
yang dipilih secara random (lebih banyak lebih baik) dan mewakili daerah
penanaman. Pastikan memilih tanaman dalam suatu area dimana populasi tanaman
seragam.
Ukur warna dari tiap daun yang terpilih dengan memegang BWD
dan menempatkan bagian tengah daun di atas standar warna untuk dibandingkan
(Gambar 1). Selama pengukuran, tutupi daun yang sedang diukur dengan badan
karena pembacaan warna daun dipengaruhi oleh sudut matahari dan intensitas
cahaya matahari. Jangan memotong ataupun merusak daun, dan bila mungkin
sebaiknya pengukuran dilakukan oleh orang yang sama pada waktu yang sama di
hari-hari pengamatan.
Bila warna daun nampaknya berada diantara dua standar warna,
ambil rata-rata dari keduanya sebagai pembacaan warna daun. Contoh; bila warna
suatu daun padi terletak antara No. 3 dan No. 4, maka bacaan warna daun adalah
3,5.
Hitung
rata-rata dari 10 pembacaan BWD. Bila nilai rata-rata pembacaan warna daun
lebih rendah dari batas kritis yang sudah ditetapkan, atau bila lebih dari 5
daun yang mempunyai pembacaan warna daun rendah dari batas kritis yang sudah
ditetapkan, segera berikan pupuk N untuk mengkoreksi kekurangan N pada
pertanaman.
Penggunaan
BWD berdasarkan kebutuhan riel tanaman
Nilai warna kritis untuk pemupukan N adalah 4, bila
pembacaan BWD kecil dari 4 berikan pupuk N pada tanaman padi. Jumlah N yang
diberikan bagi varietas padi indica yang semi pendek (semidwarf) tergantung
pada besarnya hasil yang diharapkan. Pada target hasil sebesar 5 t/ha berikan
50 kg Urea/ha, dan bila target hasil tanamanmu lebih tinggi maka pupuk N yang
diberikan juga harus lebih tinggi; berikan lagi tambahan 25 kg Urea/ha untuk
setiap ton hasil harapan yang lebih tinggi dari 5 t/ha (Tabel 2).
Tabel
2. Takaran pemberian Urea (kg/ha) setelah pembacaan BWD lebih rendah dari 4
berdasarkan kebutuhan riel tanaman, pada beberapa hasil gabah yang diharapkan.*
Respons
terhadap pemupukan N, dengan hasil harapan (t/ha)
|
Rendah (5)
|
Sedang (6)
|
Tinggi (7)
|
Sangat tinggi (8)
|
|
50
|
75
|
100
|
125
|
Penggunaan
BWD berdasarkan stadia fenologi
Bila nilai BWD rata-rata 3,0 atau kurang, berikan 75 kg
Urea/ha pada hasil harapan sebesar 5 t/ha. Tambahkan lagi 25 kg Urea/ha untuk
setiap satu t/ha lebih tingginya hasil harapan.
Bila
rata-rata nilai BWD antara 3,5 dan 4,0; berikan 50 kg Urea/ha pada hasil
harapan sebesar 5 t/ha. Tambahkan lagi 25 kg Urea/ha untuk setiap ton/ha lebih
tingginya hasil harapan.
Bila
rata-rata nilai BWD antara 4,0 dan 4,5; tak perlu memberikan pupuk N bila hasil
harapan hanya 5-6 t/ha. Tambahkan 50 kg Urea/ha bila hasil harapan lebih dari 6
t/ha (Tabel 3).
Tabel
3. Takaran pemberian Urea (kg/ha) setelah pembacaan BWD lebih rendah dari 4
berdasarkan kebutuhan riel tanaman, pada beberapa hasil gabah yang diharapkan.*
Respons
terhadap pemupukan N, dengan hasil harapan (t/ha)
|
Pembacaan BWD
|
Rendah (5)
|
Sedang (6)
|
Tinggi (7)
|
Sangat tinggi (8)
|
|
3.0 or less
|
75
|
100
|
125
|
150
|
|
3.5-4.0
|
50
|
75
|
100
|
125
|
|
4.0-4.5
|
0
|
0-50
|
50
|
50
|
Sumber:
BB Padi (2006)
*
Untuk hasil harapan diasumsikan unsur hara lain seperti P dan K tidak merupakan
faktor pembatas.
Pada
tanaman padi, suatu faktor pertumbuhan paling penting yang membatasi respons
tanaman terhadap pupuk N yang diberikan adalah air. Respons terhadap pemupukan
N terbatas bila ketersediaan air kurang, dan musim tertentu cendrung memberikan
hasil lebih tinggi dalam setahun. Hal yang sama juga berlaku bagi perbedaan
efisiensi kultivar padi terhadap pupuk N. Karena alasan-alasan ini, hasil
harapan suatu kultivar tanaman padi pada musim yang berbeda bervariasi. Karena
itu takaran pupuk N bagi kelompok kultivar lain harus ditentukan sendiri secara
lokal.
ACARA III. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL TANAMAN UNTUK
ANALISIS UNSUR HARA DALAM JARINGAN
Tanaman merupakan suatu tumbuhan yang di kelola manusia yang berguna untuk
mengambil hasil atau sering juga disebut budidaya pertanian. Dalam kegiatan
budidaya tanaman, sangat rentang sekali terhadap beberapa faktor-faktor yang
sangat sensitif di antaranya adalah adalah unsur hara, iklim, tanaman dan lain-lain. Di antara aspek-aspek yang
di sebutkan yang perlu di perhatikan adalah ketersedian unsur hara di dalam
media tanam.
Pertumbuhan, perkembangan dan produksi suatu tanaman ditentukan oleh dua
faktor utama yaitu faktor genetik dan faktor lingkungan. Salah satu faktor
lingkungan yang sangat menentukan lajunya pertumbuhan, perkembangan dan
produksi suatu tanaman adalah tersedianya unsur-unsur hara yang cukup di dalam
tanah.
Tanah merupakan suatu sistem yang kompleks, berperan sebagai sumber
kehidupan tanaman yaitu air, udara dan unsur hara. Tembaga (Cu), seng (Zn),
besi (Fe) dan mangan (Mn) merupakan beberapa contoh unsur hara mikro yang
esensial bagi tanaman karena walaupun diperlukan dalam jumlah relatif sedikit
tetapi sangat besar peranannya dalam metabolisme di dalam tanaman.
Kadar hara dalam tanaman biasanya menurun sejalan dengan pertumbuhan dan
apabila penurunan ini cukup banyak maka laju pertumbuhan menjadi kurang
daripada tanaman yang berkadar hara lebih tinggi. Kadar hara yang menyebabkan
laju pertumbuhan tanaman mulai menurun dibandingkan dengan tanaman yang mempunyai
kadar hara lebih tinggi selagi faktor-faktor tumbuh lainnya berada dalam
keadaan memuaskan dinamakan kadar hara genting (critical nutrient
concennatrion). Secara kuantitatif dapat dikatakan, bahwa kadar genting ialah
suatu kadar hara yang menurunkan pertumbuhan tanaman sebanyak 10 % dibandingkan
dengan pertumbuhan maksimum. Makin lama tanaman berada di bawah kadar genting
dan makin awal hal ini terjadi pada musim tumbuh, makin berkuranglah
pertumbuhan atau hasilnya dan makin besar kebolehjadian tanaman memperlihatkan
tanggapan terhadap pemupukan. Jadi dengan analisa jaringan orang dapat menduga
apakah pengadaan hara dalam tanah sesuai dengan keperluan tanaman akan hara.
Dengan analisa jaringan yang dirancang secara berulang sepanjang masa tumbuh tanaman,
orang memperoleh serentetan gambaran tentang keadaan pengadaan hara dalam tanah
masing-masing saat selama musim tumbuh itu.
Kandungan unsur
hara dalam tumbuhan dihitung berdasarkan total beratnya per satuan berat bahan
kering tumbuhan, disajikan dengan satuan ppm atau persen. Bahan kering tumbuhan
adalah bahan tumbuhan setelah seluruh air yang terkandung didalamnya
dihilangkan. Secar praktis, jika jaringan tumbuhan segar dipanaskan dengan suhu C selama 2 hari sudah cukup untuk
menghilangkan semua air yang terkandung dalam jaringan tersebut.
Pengukuran
konsentrasi unsur hara dalam jaringan tumbuhan, tanah atau larutan hara dapat
dilakukan dengan alat spektrometer serapan atomik (atomic absorption spectrometer) atau dengan alat yang canggih yang disebut
spektrometer emisi optikal (optical
emission spectrometer).
Prinsip kerja
dari alat spektrometer emisi optikal adalah dengan menguapkan unsur-unsur yang
akan diukur pada suhu di atas 5000 K maka elektron-elektron pada unsur tersebut
adan mengalami eksistasi, pindah dari orbit asal ke orbit yang lebih tinggi.
Saat elektron-elektron tersebut kembali ke orbit asal akan dilepaskan energi
dalam bemtuk gelombang elektromagnetik yang akan berbeda-beda panjang
gelombangnya untuk unsur yang berbeda. Energi untuk masing-masing panjang
gelombang (yang berasal dari masing-masing unsur) diukur dengan spektrometer.
Keunggulan alat ini adalah mampu mengukur konsentrasi 20 jenis unsur dalam
suatu larutan dengan teliti hanya dalam waktu kurang dari 1 menit.
Sebagai patokan
kasar, natas konsentrasi unsur hara dalam jaringan tumbuhan yang menyebabkan
pertumbuhan tertekan sebesar 10% dari pertumbuhan maksimum disebut sebagai
“batas kritis” bagi unsur hara tersebut. Suatu tumbuhan dikatakan kekurangan (deficent) unsur hara tertentu jika
pertumbuhan terhambat, yakni hanya mencapai 80% dari pertumbuhan maksimum,
walaupun semua unsur hara esensial lainnya tersedia berkecukupan.
Jika jaringan
tumbuhan mengandung unsur hara tertentu dengan konsentrasi yang lebih tinggi
dari konsentrasi yang dibutuhkan untuk pertumbuhan maksimum, maka pada kondisi
ini dikatakan tumbuhan dalam kondisi konsumsi mewah (luxury consumption). Pada konsentrasi yang terlalu tinggi, unsur
hara esensial dapat juga menyebabkan keracunan bagi tumbuhan. Jadi bukan hanya
logam berat yang dapat meracuni tumbuhan.
ACARA IV. TEKNIK PENGAMBILAN SAMPEL TANAH UNTUK
ANALISIS DI LABORATORIUM
Pengambilan contoh tanah merupakan tahapan terpenting di
dalam program uji tanah. Analisis kimia dari contoh tanah yang diambil
diperlukan untuk mengukur kadar hara, menetapkan status hara tanah dan dapat
digunakan sebagai petunjuk penggunaan pupuk dan kapur secara efisien, rasional
dan menguntungkan. Namun, hasil uji tanah tidak berarti apabila contoh tanah
yang diambil tidak mewakili areal yang dimintakan rekomendasinya dan tidak
dengan cara benar. Oleh karena itu pengambilan contoh tanah merupakan tahapan
terpenting di dalam program uji tanah.
Kapan
Pengambilan Contoh Tanah Dilakukan
Contoh tanah dapat diambil setiap saat, tidak perlu menunggu
saat sebelum tanam namun tidak boleh dilakukan beberapa hari setelah pemupukan.
Keadaan tanah saat pengambilan contoh tanah pada lahan kering sebaiknya pada
kondisi kapasitas lapang (kelembaban tanah sedang yaitu keadaan tanah kira-kira
cukup untuk pengolahan tanah). Sedang pengambilan pada lahan sawah sebaiknya
diambil pada kondisi basah.
Beberapa Frekuensi Pengambilan Contoh Tanah
Beberapa Frekuensi Pengambilan Contoh Tanah
Secara umum, contoh diambil sekali dalam 4 tahun untuk
sistem pertanaman dilpangan. Untuk tanah yang digunakan secara intensif, contoh
tanah diambil paling sedikit sekali dalam 1 tahun. Pada tanah-tanah dengan
nilai uji tanah tinggi, contoh tanah disarankan diambil setiap 5 tahun sekali.
Cara
Pengambilan Contoh Tanah Komposit
Contoh tanah untuk uji tanah sebaiknya merupakan contoh
tanah komposit yaitu contoh tanah campuran dari contoh- contoh tanah individu.
Contoh tanah komposit harus mewakili bentuk lahan yang akan dikembangkan atau
digunakan untuk tujuan pertanian. Contoh tanah individu diambil dari lapisan
olah atau lapisan perakaran. Satu contoh komposit mewakili hamparan yang
homogen 10-15 ha. Untuk lahan miring dan bergelombang 1 contoh tanah komposit
terdiri dari campuran 10-15 contoh tanah individu. Sebelum pengambilan contoh
tanah, perlu diperhatikan keseragaman areal/ hamparan. Areal yang akan diambil
contohnya diamati dahulu keadaan topografi, tekstur, warna tanah, pertumbuhan tanaman,
input (pupuk, kapur, bahan organic, dan sebagainya), dan rencana dapat
ditentukan 1 hamparan yang sama (homogen/ mendekati sama). Hamparan tanah yang
homogen tidak mencirikan perbedaan- perbedaan yang nyata, antara lain warna
tanah dan pertumbuhan tanaman kelihatan sama. Contoh tanah komposit diambil
diambil pada tanah yang homogen dan dominant pada suatu hamparan.
Cara
mengambil contoh tanah komposit dapat dilakukan sebagai berikut :
- Menentukan tempat pengambilan contoh tanah individu, terdapat dua cara yaitu (1) cara sistematik seperti sistem diagonal atau zig- zag dan (2) cara acak (gambar 1).
- Rumput rumput, batu batuan atau kerikil, sisa tanaman atau bahan organic segar/ serasah yang terdapat dipermukaan tanah di bersihkan.
- Untuk lahan kering keadaan tanah pada saat pengambilan contoh tanah sebaiknya pada kondisi kapasitas lapang (kelembaban tanah sedang yaitu kondisi kira- kira cukup untuk pengolahan tanah). Sedang untuk lahan sawah contoh tanah sebaiknya diambil pada kondisi basah atau seperti kondisi saat terdapat tanaman.
- Contoh tanah individu diambil menggunakan bor tanah (auger atau tabung) atau cangkul dan sekop. Jika menggunakan bor tanah, contoh tanah individu diambil pada titik pengambilan yang telah ditentukan, sedalam +20 atau lapisan olah. Sedangkan jika menggunakan cangkul dan sekop, tanah dicangkul sedalam lapisan olah (akan membentuk seperti huruf v), kemudian tanah pada sisi yang tercangkul diambil setebal 1,5 cm dengan menggunakan cangkul atau sekop (gambar 2)
- Contoh- contoh tanah indivisu tersebut dicampur dan diaduk merata dalam ember plastic, lalu bersihkan dari sisa tanaman atau akar. Setelah bersih dan teraduk rata, diambil contoh seberat kira-kira 1 kg dan dimasukkan kedalam kantong plastic (contoh tanah komposit). Untuk menghindari kemungkinan pecah pada saat pengiriman, kantong plastic yang digunakan rangkap dua.Pemberian label luar dan dalam. Label dalam harus dibungkus dengan plastic dan dimasukkan diantara plastikpembungkus supaya tulisan tidak kotor atau basah, sehingga label tersebut dapat dibaca sesampainya dilaboratorium tanah. Sedangkan label luar disatukan pada sat pengikatan plastic. Pada label diberi keterangan mengenai kode pengambilan, nomor contoh tanah, asal dari (desa/kecamatan/kabupaten), tanggal pengambilan, nama dan alamat pemohon. Selain label yang diberi keterangan, akan lebih baik jika contoh tanah yang dikirim dilengkapi dengan peta situasi atau peta lokasi contoh.
- Informasi tambahan yang dibutuhkan antara lain penggunaan lahan ; penggunaan pupuk, kapur, bahan organik;waktu terakhir penggunaan pupuk, kapur atau bahan organic; kemiringan lahan; posisi/ letak pada lereng (bagian atas tengah atau bawah); bentuk lereng (rata, cembung, atau cekung); bentuk wilayah (datar, berombak, bergelombang atau berbukit); keadaan pertanaman; tanaman terakhir atau sebelumnya; hasil yang telah dicapai dan yang diinginkan. Seluruh informasi lokasi pengambilan contoh tanah dicatat dalam formulir isian yang berlaku.
Hal-
hal yang perlu diperhatikan :
- Jangan mengambil contoh tanah dari galengan, selokan, bibir teras, tanah tererosi sekitar rumah dan jalan, bekas pembakaran sampah/ sisa tanaman/ jerami, bekas penimbunan pupuk, kapur dan bahan organic, dan bekas penggembalaan ternak.
- Permukaan tanah yang akan diambil contohnya harus bersih dari rumput- rumputan, sisa tanaman, bahyan organic/ serasah, dan batu- batuan atau kerikil.
- Alat- alat yang digunakan bersih dari kotoran- kotoran dan tidak berkarat. Kantong plastic yang digunakan sebaiknya masih baru, belum pernah dipakai untuk keperluan lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar