Selasa, 12 April 2016

Tingkat Residu Fungisida Methyl Thiophanate Dalam Tanah dan Pada Tanaman Kentang (Solanum tuberosum l.)


 








oleh :
fenti wulandari
c1m 013 060






fakultas pertanian
universitas mataram
2016
BAB I. PENDAHULUAN

1.1.        Latar Belakang
Penggunaan pestisida dalam bidang pertanian telah menunjukkan hasil dalam menanggulangi merosotnya produksi akibat serangan jasad pengganggu.  Kebutuhan pestisida akan terus meningkat sebelum ditemukan cara yang lebih efektif di dalam mengendalikan jasad pengganggu.  Disamping itu penggunaan pestisida yang tidak tepat dapat menimbulkan akibat-akibat sampingan yang merugikan karena kebanyakan petani menggunakan pestisida tanpa memperhatikan keadaan biologi, ekologi hama dan penyakit tumbuhan, sehingga apabila penggunaan pestisida sering mendatangkan dampak yang tidak diinginkan.  Salah satu dampak penggunaan pestisida adanya residu pestisida pada hasil pertanian dan tanah pertanian (Ekha, 1988).
Beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa, pemakaian pestisida telah meluas pada beberapa komoditi pertanian, salah satunya komoditi  kentang. Pada tanaman kentang perlakuan insektisida dan fungisida sangat intensif, karena tanaman tersebut sangat peka terhadap serangan hama dan patogen.  Umumnya penyakit-penyakit utama yang banyak menyerang tanaman kentang di Batu Malang adalah penyakit busuk daun Phythopthora infestans (Mont.) de Barry  sedangkan hama utamanya golongan ulat dan kutu Thrips sp.
            Penyakit hawar daun kentang yang disebabkan oleh Phythopthora infestans merupakan salah satu kendala utama budidaya kentang di Batu Malang.  Pendekatan teknik pengendalian penyakit tersebut sampai sekarang sangat tergantung dari penggunaan fungisida yang sangat intensif.  Terdapat banyak fungisida yang sering digunakan oleh petani-petani kentang di Batu, diantaranya mankozeb, propineb, maneb dan methyl thiophanate dan banyak lagi jenis-jenis fungisida yang digunakan berspektrum luas.  Hasil survei tahun 1992 (Abadi, et.al, 1993) pada petani-petani sayuran di Batu Malang mengidentifikasikan penggunaan beberapa fungisida berspektrum luas.  Umumnya petani menyemprot fungisida pada tanaman kentang dengan interval 2-3 kali setiap minggu dengan dosis 1 kg/200 liter air yang setara dengan konsentrasi 5 gram/liter air.  Penyemprotan fungisida dapat ditambah intervalnya bila cuaca dianggap menguntungkan hama dan penyakit.
            Dampak samping penggunaan aplikasi fungisida di lahan tanaman kentang adalah adanya residu yang tertinggal didalam tanah dan  tanaman kentang dan salah satu satu dampak yang banyak menerima residu fungisida adalah tanah.  Semakin banyak tanaman kentang disemprot dengan fungisida maka akan berpengaruh terhadap akumulasi residu pada tanah.  Perilaku fungisida pada tanah dapat mengalami beberapa peristiwa diantaranya, pencucian oleh air tanah sehingga tanah banyak mengandung residu fungisida, mengalami degradasi kimia oleh mikroba, bioakumulasi fungisida oleh mikroba, perubahan tingkat populasi mikroba tanah dan lain-lain. 
            Umumnya efek residu fungisida pada tanah tanaman kentang dapat bertahan selama 30 hari, 90 hari, 120 hari bahkan ada yang sampai bertahan selama 2 tahun (Anonymous, 1993).  Bertahannya residu fungisida pada tanah tanaman kentang diduga karena adanya populasi mikroba tanah yang berfungsi sebagai bioakumulator, dosis yang tinggi dan waktu aplikasi yang sempit serta pengaruh perilaku mikroba tanah terhadap fungisida yang menyebabkan salah satu tinggi rendahnya residu pada tanah.  Masih belum banyak informasi-informasi tingkat residu fungisida pada tanah tanaman kentang dan dampaknya terhadap kehidupan mikroba tanah.  Dalam penelitian ini ditekankan seberapa jauh tingkat residu fungisida methyl thiophanate serta dampaknya terhadap kehidupan jamur tanah.
Berdasarkan uraian di atas maka disusunlah makalah mengenai  tingkat residu fungisida methyl thiophanate (C12H14N4O4S2) dalam tanah dan tanaman kentang (Solanum tuberosum L.).




1.2.        Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui tingkat residu fungisida methyl thiophanate (C12H14N4O4S2) dalam tanah dan tanaman kentang (Solanum tuberosum L.).

                 



BAB II. LANDASAN TEORI

2.1. Fungisida Methyl Thiophanate
Fungisida adalah pestisida yang secara spesifik membunuh atau menghambat cendawan penyebab penyakit. Fungisida dapat berbentuk cair (paling banyak digunakan), gas, butiran, dan serbuk. Perusahaan penghasil benih biasanya menggunakan fungisida pada benih, umbi, transplan akar, dan organ propagatif lainnya, untuk membunuh cendawan pada bahan yang akan ditanam dan melindungi tanaman muda dari cendawan patogen. Selain itu, penggunaan fungisida dapat digunakan melalui injeksi pada batang, semprotan cair secara langsung, dan dalam bentuk fumigan (berbentuk gas yang disemprotkan).
Methyl Thiophanate  merupakan bahan aktif dari fungisida jenis Dense 70 WP. DENSE 70 WP adalah fungisida sistemik yang bersifat protektif dan kuratif berwarna putih berbentuk tepung yang dapat disuspensikan untuk mengendalikan penyakit pada tanaman padi Merupakan fungisida sistemik yang bekerja secara ganda. Secara preventif mencegah penyakit dan secara kuratif membunuh penyakit yang menyerang tanaman, Memiliki spektrum pengendalian yang luas, sehingga efektif untuk mengendalikan berbagai penyakit pada tanaman, Dapat bertindak sebagai booster padi, efektif untuk meningkatkan hasil dan kualitas padi, Tidak terakumulasi dalam tanaman dan mudah terurai di alam, sehingga dapat digunakan beberapa kali tanpa meninggalkan residu pada tanaman. Fungisida sistemik bekerja secara spesifik melalui perusakan kimia enzim jamur seperti seperti merusak "akar", mengganggu pembentukan tabung kecambah, dan ada juga yang mengganggu pembentukan spora.




.2.2. Tingkat Residu Fungisida Methyl Thiophanate Dalam Tanah Tanaman Kentang.
Hasil pengukuran residu fungisida methyl thiophanate pada sampel tanah tanaman kentang dengan metode UV-Spectrofotometri menunjukkan adanya perbedaan yang nyata dengan uji t-test 1% dari waktu pengukuran sampel tanah 1 minggu sebelum bibit kentang ditanam (A) dengan waktu pengukuran 6 minggu  sebelum panen kentang (B) tetapi tidak berbeda nyata dengan waktu pengukuran  1 minggu sebelum panen (C).  Kadar residu fungisida methyl thiophanate tertinggi diperoleh dari  waktu  pengukuran 1 minggu sebelum panen (C) sebesar 37,0782 ppm (tabel 1), sedangkan hubungan tingkat rata-rata residu fungisida methyl thiophanate pada tanah tanaman kentang dari 3 kali waktu pengukuran (Humaidi, 2000).
Tingginya residu fungisida methyl thiophanate pada waktu pengukuran 1 minggu sebelum panen diduga  adanya peningkatan konsentrasi dan waktu aplikasi fungisida yang dilakukan oleh petani kentang. Umumnya petani kentang di desa Sumberbrantas mengaplikasikan fungisida methyl thiophanate pada dosis 1 kg/200 liter air per hektar yang setara dengan konsetrasi 5 gram/liter air, sedangkan dosis anjuran 1 kg/500 liter air per hektar yang setara dengan konsentrasi sebesar 2 gram/liter air. Hal ini bisa terjadi karena tanaman kentang varietas granola yang dibudidayakan rentan terhadap serangan Phytophthora infestans  dan didukung dengan lengas nisbi yang cukup tinggi sekitarv 85%.  Dugaan lain terjadi karena waktu penanaman kentang bersamaan dengan waktu musim penghujan  sehingga petani-petani kentang meningkatkan konsentrasi dan waktu aplikasi fungisida methyl thiophanate.  Pendapat ini kemudian diperjelas oleh   Soeriaatmadja et al. (1993) bahwa tingkat residu pestisida pada tanah tanaman kentang sangat tergantung dari beda waktu antara aplikasi pestisida terakhir dengan saat panen.  Semakin pendek beda waktu antara aplikasi pestisida dengan saat panen maka semakin tinggi residu pestisida yang terdeposit dalam tanah. 

Tingginya residu fungisida yang terdeposit dalam tanaman dan tanah selain dipengaruhi oleh beda waktu aplikasi fungisida juga dipengaruhi dari cara dan waktu aplikasi fungisida, frekuensi aplikasi fungisida, dosis setiap aplikasi fungisida dan sifat kestabilan fungisida (Anonymous, 1993). Selanjutnya dikemukakan oleh Touchstone and Dobbin (1977), Silverstein et.al (1991) dan Rao (1994) bahwa besar kecilnya data yang diperoleh dari tingkat residu fungisida methyl thiophanate dalam tanah sangat dipengaruhi oleh konsentrasi awal aplikasi, sifat dan kestabilan bahan aktif serta metode analisis residu yang digunakan.  Kestabilan residu fungisida golongan benzimidazole seperti benomyl, karbendazim (MBC) dan  methyl  thiophanate  mempunyai waktu paruh dalam tanah selama 6 bulan (Ware, 1982 dalam Humaidi 2000).

2.3. Dampak Residu Fungisida Methyl Thiophanate dalam Tanah Terhadap Kehidupan Jamur Tanah.    

Dampak tingkat residu fungisida methyl thiophanate terhadap rata-rata jumlah jamur tanah  menunjukkan perbedaan yang nyata terutama pada waktu pengambilan sampel tanah 1 minggu sebelum bibit kentang ditanam (A) dengan B (tanaman kentang berumur 6 minggu sebelum panen ) tetapi tidak berbeda nyata jika waktu pengambilan sampel tanah 6 minggu sebelum panen kentang (B) dengan waktu pengambilan sampel tanah 1 minggu sebelum panen (C), sedangkan hubungan rata-rata tingkat populasi jamur tanah dengan residu fungisida methyl thiophanate (Humaidi, 2000).
Menurut Deacon (1997) bahwa rendahnya jumlah populasi jamur tanah diduga karena propagule (konidi) mengalami dormansi (resting spores).  Dugaan lain yang  mungkin terjadi kerena persenyawaan bahan aktif terakumulasi ditanah dapat mencegah pertumbuhan  jamur tanah  tanpa membunuh jamur tesebut.  Proses inilah dikenal dengan nama fungistatik.
Menurut Peen et.al (1987) dan Cremlyn (1991) bahwa fungisida methyl thiophanate merupakan jenis fungisida sistemik dengan bahan dasar thiourea.  Methyl thiophanate merupakan analog dari methyl yang diperoleh dari kondensasi potassium thiocyanate, methyl chloroformate dan o-phenylene diamine.  Fungisida ini bersifat sistemik dengan persistensi tinggi didalam tanah atau rhizosphere.  Golongan fungisida methyl thiophanate (benzimidazole) efektif pada dosis rendah terhadap jamur golongan Ascomycetes, Basidiomycetes dan Fungi Imperfecti.
Sedangkan menurut  Sispesteijn (1982)  bahwa pengaruh  fungisida methyl thiophanate pada jamur dimulai dari sel-sel eukaryotik jamur mempunyai bagian yang dinamakan cytoskeleton yang terbagi menjadi 2 unit protein yaitu tubulin dan aktin yang adaptif terhadap variasi dan type pergerakan makromolekul didalam intraseluler didalam organel sel.  Organisasi organel  ini dibutuhkan untuk proses budding (penggabungan) serta flagella ke bagian inti sel.  Tubulin dibagi menjadi 2 rangkaian asam amino yaitu a tubulin dan b tubulin.  Tubulin ini merupakan bagian dari sel jamur.  Jika terdapat molekul-molekul fungisida methyl thiophanate yang bergabung kedalam mikrotubuli maka mikrotubuli bergerak menuju sistem spindle fibre (jaringan berbentuk kumparan).  Proses selanjutnya, spindle fibre gagal dalam mitosis terutama fase metafase menampakkan bagian-bagian kromosom yang imperfek/tidak sempurna. Lebih lanjut menurut Ware (1982);  Liu and Hsiang (1996), fungisida methyl thiophanate  mengganggu metabolisme jamur sebagai akibat adanya distorsi morfologi perkecambahan spora dan menghambat sintesa DNA inti sel.






BAB III. PENUTUP


3.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari makalah ini antara lain, yaitu :
1.    Penggunaan fungisida methyl thiophanate pada tanaman kentang dapat meningkatkan residu fungisida pada tanah tanaman kentang. Residu fungisida methyl thiophanate tertinggi (37,0782 ppm) diperoleh dari waktu pengukuran 1 minggu sebelum panen meskipun tidak berbeda nyata dengan waktu pengukuran 6 minggu sebelum panen (36,0236 ppm).
2.    Rata-rata populasi jamur tanah akibat adanya residu fungisida methyl thiophanate mengalami penurunan populasi jamur tanah/gram tanah. Rata-rata populasi jamur terendah (12.900 jamur/gram tanah) diperoleh pada waktu pengambilan sampel tanah 1 minggu sebelum panen  meskipun tidak berbeda nyata dengan waktu pengambilan sampel tanah 6 minggu sebelum panen (14.000 jamur/gram tanah).

3.2. Saran
Sebaiknya residu fungisida methyl thiophanate yang terdeposit didalam tanah tanaman kentang dibawah 37,0782 ppm dengan harapan dapat memberikan peranan jamur antagonis yang cukup tinggi didalam menekan populasi patogen tanah.
Sebaiknya petani kentang dalam mengaplikasikan fungisida methyl thiophanate pada dosis anjuran (1 kg/500 liter air) dan dengan waktu aplikasi 7 hari sekali.








DAFTAR PUTAKA



Anonymous. 1993.  Movement of Pesticides in The Enviroment, Extension Toxicology Network, pp. 1-5 . Oregon State University.
Anonim. 2013. Fungisida Dense &0 WP. http://transelektronika.blogspot.co.id/ Diakses 1 April 2016.
Anonym. 2013. Metil Triofanat

Deacon , J. 1997. Modern Mycology, Third Edition, Blackwell Science Ltd. Victoria, Australia.
Humaidi, Faisol. 2000. Tingkat Residu Fungisida Methyl Thiophanate Dalam Tanah  Pada Tanaman Kentang Serta Dampak Terhadap Kehidupan Jamur Tanah Di Batu Malang. Unibraw. Malang.
Sijpestein, A.K. 1982.  Mechanism of Action of Fungicides.  Fungicide resistence in Crop Protection, (Eds. Dekker and S.G. Georgepoulos), pp.1-13. Centre for Agricultural Publising and Documentation, Wageningen.
Ware, G.W . 1978.  Pesticides Theory and Aplication.  W.H. Freeman and Company, San Francisco.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar